thank's for coming, and can you be my member? XD 항상 거기

6/21/2015

Cerita inspirasi^^

“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.
“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk dikorsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.
Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”
“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “
“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “
Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.
Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gixi yang cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gixi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.
“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “
“ Biar dia bisa dididik dengan benar”
“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”
“ Ini sudah keputusanku, Titik.
“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.
Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.
Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “
Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.
Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.
Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.
Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.
Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.
Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.
“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.
“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.
***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “
***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.
Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.
Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.
Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya
“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “
“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “
Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah
[disadur dari Group WhatsApp]

2/05/2015

Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 1-20 (Tamat)

Portalsinopsis.com - Drama Korea Pinocchio adalah salah satu Drama Korea Terbaik dan Terpopuler di Tahun 2014. Drama Korea Pinocchio bercerita tentang kehidupan wartawan atau jurnalis di sebuah perusahaan penyiaran.


Sinopsis Lengkap Drama Korea Pinocchio

Selayaknya seorang wartawan, para wartawan ini juga bertugas untuk mencari fakta atau informasi yang bertujuan untuk menacri sebuah kebenaran. Tetapi ada yang menarik dari salahsatu wartawan tersebut karena mengidap "Sindrom Pinocchio"

Drama Korea Pinocchio :
Judul  :  Pinocchio / 피노키오
Genre  :  Romance, Drama, Komedi, Family
Jumlah Episode : 20 episode
Stasiun TV  :  SBS
Periode Tayang : 12 November 2014 - sekarang
Waktu Tayang  :  Rabu dan Kamis 21:55 KST
Pemain Utama : Lee Jong-suk dan Park Shin-hye

Plot Drama Korea Pinocchio :
Sinopsis Lengkap Drama Korea Pinocchio
Drama Korea Pinocchio bercerita tentang kehidupan wartawan/jurnalis di sebuah perusahaan penyiaran. Selayaknya seorang wartawan, para wartawan ini juga bertugas untuk mencari fakta atau informasi yang bertujuan untuk menacri sebuah kebenaran. Tetapi ada yang menarik dari para wartawan ini, ialah Park Shin Hye yang dalam film ini berperan sebagai Choi In Ha ternyata memiliki kelainan yang unik. Choi In Ha memiliki "Sindrom Pinocchio" yang mana jika ia bebohong maka ia akan mengalami cegukan yang keras.

Lain halnya dengan Choi Dal Po (Lee Jong Suk) yang merupakan wartawan baru yang belum berpengalaman. Mekipun memiliki paras yang tampan namun pria satu ini sangat buruk dalam hal berpenampilan. Tak heran jika Choi Dal Po banyak diremehkan orang lain mekipun sebenarnya dia adalah orang yang sangat pandai berbicara.

Lalu bagaimana jika keduanya yang sama-sama memiliki kelemahan dipertemukan, apalagi sampai saling jatuh cinta ?
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 1-20 (Tamat) :
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 1
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 2
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 3
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 4
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 5
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 6
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 7
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 8
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 9
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 10
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 11
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 12
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 13
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 14
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 15
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 16 
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 17
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 18
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 19 
Sinopsis Drama Korea Pinocchio Episode 20 [TAMAT]
Selamat Membaca. Jika terdapat link drama yang tidak bisa dibuka mohon beritahu kami.

Daftar Pemain Drama Korea Pinocchio :
  • Lee Jong-suk sebagai Choi Dal-po/Ki Ha-myung
  • Park Shin-hye sebagai Choi In-ha
  • Kim Young-kwang sebagai Seo Beom-jo
  • Lee Yu-bi sebagai Yoon Yoo-rae
  • Jung In-gi sebagai Ki Ho-sang ( Ayah Ha-myung's)
  • Jang Young-nam sebagai (Ibu Ha-myung's)
  • Yoon Kyun-sang sebagai Ki Jae-myung
  • Byun Hee-bong sebagai Choi Gong-pil
  • Shin Jung-geun sebagai Choi Dal-pyung
  • Kim Hae-sook sebagai Park Rosa
Rating Per Episode Drama Korea Pinocchio :

Rating Per Episode Drama Korea Pinocchio

sinopsis Drama Korea Pinocchio eps. 5

Gue bakal buka sinopsis Pinocchio episode 5 dengan tingkah lucu Dal Poo dan In Ha yang berebut kamar mandi di pagi hari. Taraaaaaaaaaaaaa....


Ya, Gue cuman kasih cuplikan drama pinocchio yang bikin Gue ketawa padahal Dal Poo dan In Ha udah saling ngungkapin isi hatinya. Drotonata...Drotonata...Haha...



Episode 5 di awali dengan Dal poo yang pergi ke kantor polisi untuk menanyakan tentang kabar penemuan mayat Ayahnya yang ditemukan di bangunan kontruksi tempat kakak Dal Poo bekerja. Petugas yang di tanya oleh Dal Poo mengatakan bahwa mayat sang Ayah sudah di ambil oleh seseorang.




Kakak Dal Poo yang secara langsung melihat mayat Ayahnya mengirim kepergian Ayahnya dengan menaruh abu di tempat pemakaman. Sambil menangis dia sedikit menyimpan dendam pada para pelaku kebohongan kepada Ayahnya di masa lalu.



Dal Poo mendapatkan SMS bahwa Dia diterima untuk menjadi reporter di YGN. Sedangkan dalam pikirannya masih berpikir tentang kakaknya yang belum diketehui keberadaannya dan In Ha yang Dia sakiti ketika tes kedua YGN kemarin.





Di pagi hari Dal Poo yang telah diterima bersiap untuk pergi ke YGN sedangkan In Ha juga keluar dari rumah. Keduanya pergi tanpa sarapan hingga percakapan keluarga pun tak terelakan/





In Ha berbicara pada Dal Poo tentang kondisinya yang baik-baik saja karena sanggahan Dal Poo ketika tes kedua di YGN. Bukan berkata hal yang baik Dal poo memperkeruh suasana In Ha dengan berkata apa yang dia katakan ketika tes kedua di YGN benar-benar hasil pemikirannya bahwa seorang yang memiliki syndrom pinocchio tidak bisa menjadi reporter.




Turun dari lift In Ha dan Dal Poo masih bertengkar hingga In Ha melempar sepatunya ke arah Dal Poo yang sedang berjalan menjauh dari In Ha/





In Ha benar-benar kesal dengan Dal Poo. In Ha dalam scene ini menjadi kasir sebuah toko. Selama Dia menangani pelanggan Dia hanya berbicara sendiri, dan ketika ada Ajumma yang memberikan saran agar cegukannya hilang hingga pelanggan Bum Jo pun datang membeli, Dia tetap tidak bisa menghentikan cegukanya. 



Dal Poo dan Intern yang lainnya benar-benar datang pagi jam 9.30. Ada kerumunan kecil yang sedang membahas informasi tentang reporter-reporter di YGN.



Ayah Dal Poo benar-benar senang melihat ID Card Dal Poo sebagai wartawan YGN. Sambil menunggu In ha yang menggunakan kamar mandi, Dia bercengkrama dengan Ayahnya.





In Ha masih kesal dengan perlakuan Dal Poo. Sikat gigi Dal Poo pun Dia gosokan pada kloset dan ditaruhnya lagi ke tempat gantungan sikat gigi. Sebelum Dal Poo menyikat gigi, In Ha yang kesal merasa sangat bersalah dan merebut sikat gigi dari pamannya dan membuangnya ke tempat sampah.



Kakak Dal Poo bertemu lagi dengan pelaku pembohongan pada Ayahnya yang meninggal karena kebakaran. Kakak Dal Poo (Jae Myeong) menabrakan dirinya pada meja pelaku kejahatan dan sedikit mengkonfirmasi dengan lirikan penuh dendam.



Dal Poo bersama pegawai intern lainya memasuki studio dan belajar bagaimana berita sampai kepada para penonton. Terlihat beberapa orang sibuk dan ada scene pembawa berita yang sedang membawakan berita tentang rating news YGN yang berada di atas MSC.





In Ha dan Bum Jo bertemu lagi. Bum Jo membantu In Ha yang sedang merapikan barang-barang toko. Ketika mereka berdua sedang bersama muncul ibu In Ha menawarkan In Ha untuk menjadi reporter di MSC untuk menaikan rating MSC.






In Ha menunggu Dal Poo pulang. Setelah bertemu, In Ha mengajak Dal Poo untuk pergi ke atap. Di Atap In Ha mengutarakan isi hatinya kepada Dal Poo bahwa Dia menyukai Dal Poo. Tidak akan ada hubungan seperti pasangan diantara mereka berdua paparnya. Dal Poo masih benar-benar terkejut dengan ucapan In Ha yang menyukainya.






Pulang dari atap mereka berdua di suguhkan Kue untuk merayakan ulang tahun In Ha yang ternyata kue tersebut adalah Dal Poo yang membeli. Percakapan kecil pun membuat keluarga mereka bahagia. Dal Poo mengingat kembali bagaimana keluarga mereka terbentuk setelah di kamar dengan melihat foto kebersamaan mereka.



In Ha menelpon ibunya dan mengkonfirmasi bahwa dirinya akan menjadi reporter untuk MSC. Sebelumnya dia tampak ragu untuk menelpon ibunya karena mungkin rasa sakit yang belum hilang dari perkataan ibunya yang tidak merindukanya sama sekali.




Bum Joo ternyata ikut dengan In Ha menjadi pegawai magang di MSC. Bum Joo dapat masuk menjadi reporter karena pengaruh ibunya yang mungkin ada bagian di MSC. 



In Ha diberikan scrip dan langsung membacakan merita untuk MSC. Di awasi oleh ibunya, Dia pun membawakan berita dengan cukup tenang.



Bila In Ha sudah sampai tahap membaca berita, Dal Poo tetap masih harus mempelajari berbagai macam tempat untuk menjadi reporter YGN hingga masuk ke dalam ruang operasi untuk mencari berita. 






Di rumah Dal Poo disuguhi makanan yang kurang enak di lihat yang membuat perutnya mual. (Abis ngeliat operasi di rumah sakit jelas Dal Poo harusnya sedikit mual, Haha). Setelah lama di kamar mandi karena mualnya, di kamar Dia mendapati obat mual yang di beli In ha di atas meja sedangkan Ayah beserta adiknya pun memberikannya obat setelah mereka keluar rumah. Kembali Dal Poo melihat foto kebersamaan keluarganya.



Kembali bekerja sebagai reporter YGN, Dal Poo harus menyusun ulang kertas yang sudah di hancurkan. (Belum jelas maksud training ini yang jelas mereka menyusun kembali untuk mendapatkan berita, Hehe)



Teman Jae Myong masih mempermasalahkan kendaraan yang tergores. Dia memberi saran untuk orang yang menabraknya mengganti rugi biaya kerusakannya. Sambil tersenyum Kakak Dal Poo (Jae Myong) mengiyakan sambil berlalu darinya.





Dal Po di telepon oleh pemilik mobil yang tergores (Kakak Dal Poo). Walau sedang sibuk bersama rekan-rekannya, Dal Poo akhirnya memenuhi permintaan seseorang yang menelponya untuk datang ketempat perjanjian.





(Wah produser mainin kamera nih, Haha) Jae Myong di telpon oleh seseorang dan menyuruhnya untuk menunggu. Sampai di tempat ternyata bukan Dal Poo yang ditemui melainkan pelaku pembunuhan Ayahnya Dal Poo sekitar 13 tahun yang lalu. Jae Myong ternyata mengambil dompetnya ketika di rumah makan.



Di scene lain ada Dal Poo yang bertemu dengan temanya Jae Myong (Kakak Dal Poo) untuk menerima uang ganti rugi dari Dal Poo.



Scene berlanjut ke tempat dimana Kakak Dal Poo (Jae Myong) melakukan balas dendam. Pelaku pembohong yang memberikan informasi yang salah masuk kedalam sebuah lubang besar dan ditutupnya lubang tersebut oleh Jae Myong. (Waaaaah, kemungkinan Kakak Dal Poo bakal jadi pembunuh nih)


Dal Poo yang telat akhirnya dihukum untuk menyelesaikan kertas yang rusak sendirian.



Sedangkan In Ha akhirnya dapat melihat dirinya ada di dalam berita seperti yang Dia cita-citakan semenjak SMA.



Dal Poo yang di hukum bercakap-cakap dengan reporter yang pernah ia temui ketika dia masih SMA. Sang reporter ingin mengetahui alasan Dal Poo menjadi reporter.



Di scene lain ada Jae Myong yang berbicara dengan nada marah pada pelaku pembohongan, dimana Ayahnya meninggal karenanya. Dia menyebutkan identitasnya yang merupakan anak dari pimpinan pemadam kebakaran yang terbunuh 13 tahun yang lalu.


Dal Poo menyebut alasan kenapa Dia harus menjadi reporter. Dia memberitahukan namaa aslinya pada sang reporter. Ada 2 hal yang ingin dia lakukan sebagai reporter, membersihkan nama Ayahnya dan mencari hyungnya. (Update 27 Nov 16.30, maaf karena salah men-sinopsiskan tadi pagi, Hehe)

From Me : Mmmm, Ngeliat In Ha di MSC and Dal Poo di YGN cukup buat penasaran gimana mereka pecahin kasus untuk di jadiin berita. Permainan scenenya pun bener-bener ngehibur, Hehe. Nunggu ep 6 deh.  Masih dengan mengira-ngira isi cerita, Gue belum tau ini sinopsis benar or salah, karena subtitle bahasa inggrinya pun belum keluar. Gue cuman ngeliat akting dan suasana. Cuman sedikit percakapan yg Gue ngerti. Semoga bermanfaat aja deh. Terima kasih...


Adopted from: http://limaigoo.blogspot.com/2014/11/review-drama-korea-pinocchio-episode-5.html